8 Perbedaan Liu Bei di Dynasty Warriors dan Sejarah Samkok Asli
.jpg)
Penggemar Dynasty Warriors tentu akrab dengan Liu Bei, pemimpin Shu Han yang terkenal dermawan dan bijaksana. Namun, tahukah kamu bahwa karakter aslinya dalam sejarah sangat berbeda? Temukan delapan fakta mengejutkan Liu Bei di catatan sejarah Sanguozhi.
Catatan: Artikel ini membandingkan catatan sejarah Sanguozhi dengan novel Romance of the Three Kingdoms serta alur game Dynasty Warriors.
Perbedaan Liu Bei di Novel Samkok, Catatan Sanguozhi, dan Dynasty Warriors
1. Sumpah Persaudaraan di Kebun Persik Tidak Pernah Terjadi?
Salah satu momen paling ikonis dalam Dynasty Warriors adalah ketika Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei mengucapkan sumpah persaudaraan di kebun persik untuk hidup dan mati bersama demi menyelamatkan Dinasti Han.
Meski sangat memorable, peristiwa Sumpah Kebun Persik atau Oath of the Peach Garden sebenarnya tidak pernah tercatat dalam Sanguozhi. Kisah tersebut hanya rekaan dalam novel Samkok. Namun, bukan berarti persahabatan mereka sepenuhnya fiktif.
Catatan Sanguozhi menyebutkan bahwa hubungan Liu Bei dengan Guan Yu dan Zhang Fei memang sangat dekat bagaikan saudara kandung. Hanya saja, upacara sumpah yang dramatis di bawah pohon persik tidak pernah terjadi dalam sejarah Tiongkok.
2. Dianggap Pemimpin yang Sabar, Liu Bei Pernah Menghajar Pejabat Pemerintah Sampai 200 Kali
Sebelum menikmati petualangan sejarah ini dengan mulus, pastikan kebutuhan gaming kamu terpenuhi dengan melakukan top up game favorit secara mudah dan cepat hanya di Top Up Flyx!.
Dalam kisah permainan Dynasty Warriors, Liu Bei kerap digambarkan sebagai pemimpin yang bijaksana, tenang, sabar, dan lebih memilih menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Urusan marah-memarahi justru lebih sering diwakili oleh Zhang Fei. Padahal, ada satu kejadian sejarah yang menunjukkan sisi temperamental Liu Bei yang sebenarnya.
Hal ini terjadi ketika dia bekerja sebagai pejabat daerah di Anxi, yang kini menjadi bagian Provinsi Hebei di Tiongkok Utara. Liu Bei mendapat kabar kalau pemerintahan Dinasti Han ingin memberhentikan sejumlah pejabat daerah dan dirinya terancam kehilangan jabatan.
Saat seorang inspektur pemerintah datang ke Anxi, Liu Bei menduga dirinya akan menjadi salah satu pejabat yang dicopot. Dia pun berusaha menemui inspektur tersebut untuk meminta penjelasan, tapi permintaannya kerap ditolak dengan alasan sang inspektur sedang sakit. Liu Bei yang kehilangan kesabaran pun mendatangi penginapan inspektur tersebut, mengaku mendapat perintah untuk menangkapnya, lalu mengikat dan membawanya keluar kota.
Liu Bei kemudian dikatakan menghajarnya menggunakan tongkat bambu sebanyak 200 kali sebelum akhirnya melepaskan jabatannya sendiri. Novel Samkok kemudian mengubah kejadian tersebut justru menjadi hal yang dilakukan oleh Zhang Fei, sementara Liu Bei malah dibuat menjadi orang yang menghentikan tindak kekerasan itu.
3. Liu Bei Bukan Cuma Memikirkan Rakyat, Tapi Juga Mengincar Kekuasaan
Kalau mengikuti cerita Dynasty Warriors, Liu Bei digambarkan sebagai sosok mulia atau benevolent, yang selalu mengatakan kalau dia berjuang demi rakyat dan ingin mengembalikan perdamaian ke negeri Tiongkok yang dilanda peperangan saudara. Ambisinya terlihat sangat terpuji dibandingkan Cao Cao yang hanya mengutamakan kekuatan dan dominasi.
Namun, dalam catatan sejarah Sanguozhi, dikisahkan bahwa Liu Bei juga berjuang keras demi membangun kekuatan politiknya sendiri. Hal ini tampak dari perjalanan hidupnya yang kerap berpindah-pindah pihak perlindungan serta menjalin aliansi dengan berbagai penguasa, mulai dari Gongsun Zan, Tao Qian, Cao Cao, Yuan Shao, hingga Liu Biao. Ia juga senantiasa mencari celah untuk memperoleh wilayah demi mendirikan basis kekuasaan.
Puncak dari ambisi tersebut terjadi pada tahun 221 Masehi, saat Liu Bei mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar Shu Han pasca runtuhnya Dinasti Han Timur. Walaupun berdalih ingin mempertahankan legitimasi Dinasti Han, tindakan tersebut turut mengungkap sisi ambisi politiknya yang kuat. Dengan demikian, Liu Bei tidak hanya tampil sebagai sosok pemimpin idealis pendamba kedamaian, melainkan juga seorang politikus lihai yang pandai memanfaatkan peluang.
4. Pusat Kekuasaan Shu Han yang Berdiri dari Hasil Merebut Wilayah Kerabat Sendiri
Berbicara mengenai kelihaiannya mencari wilayah serta memanfaatkan kesempatan, salah satu pencapaian terbesar Liu Bei dalam catatan sejarah justru bersumber dari konflik melawan sesama anggota marga Liu. Rekaman Sanguozhi memaparkan bahwa pada tahun 211 Masehi, Liu Bei mendapat undangan dari penguasa Provinsi Yi yakni Liu Zhang, guna membantu menangkis gempuran dari daerah utara.
Kendati demikian, relasi di antara kedua pemimpin pasukan tersebut lambat laun menjadi renggang. Liu Bei kemudian berbalik menyerang Liu Zhang demi menguasai teritorialnya. Lewat rangkaian pertempuran yang memakan waktu panjang, Liu Zhang akhirnya menyerah berselang dua tahun sejak kedatangan Liu Bei. Berkat keberhasilan tersebut, Liu Bei sukses menguasai Chengdu dan menjadikan Provinsi Yi sebagai pusat kekuatan utamanya. Singkat kata, kerajaan Shu Han yang populer di dalam game Dynasty Warriors ternyata berdiri akibat perseteruan Liu Bei dengan pihak yang semula mengundangnya sebagai sekutu.
5. Dikejar Pasukan Cao Cao, Liu Bei Tega Meninggalkan Istri dan Anak-Anaknya
Selain konflik kerabat tersebut, Pertempuran Changban pada tahun 208 Masehi merupakan salah satu peristiwa paling ikonik dalam kisah Samkok maupun game Dynasty Warriors. Dalam cerita, Liu Bei digambarkan sebagai sosok pemimpin yang dengan gigih berusaha melindungi rakyat jelata yang melarikan diri dari gempuran pasukan Cao Cao. Adegan ini memang diadaptasi dari catatan sejarah ketika Liu Bei harus mengevakuasi rombongan pengungsi sipil sehingga laju gerak pasukannya menjadi sangat lambat. Kendati demikian, terdapat detail historis yang membuat narasi penyelamatan ini jauh lebih kompleks.
Ketika pasukan kavaleri elite Cao Cao berhasil menyusul dan membumihanguskan lini pertahanan pasukan Shu, Liu Bei terpaksa melarikan diri bersama segelintir pengikut terdekatnya. Di tengah kekacauan medan perang yang mencekam tersebut, dia terpaksa meninggalkan istri serta anak-anaknya di belakang. Beruntung, jenderal setia Zhao Yun kemudian sukses menerobos garis musuh untuk menyelamatkan pewaris Liu Bei yaitu Liu Shan, beserta sang istri yakni Lady Gan.
6. Mengabaikan Keselamatan Bawahan, Liu Bei Mengorbankan Puluhan Ribu Pasukan Demi Balas Dendam Kematian Guan Yu
Tragedi gugurnya Guan Yu di tangan aliansi Wu menjadi titik balik paling tragis dalam lini masa cerita Dynasty Warriors. Berdasarkan catatan sejarah resmi Sanguozhi, kemarahan atas kematian saudara angkatnya ini memicu pecahnya Pertempuran Yiling pada tahun 221 hingga 222. Karena diliputi amarah yang mendalam, Liu Bei secara gegabah memimpin invasi militer besar-besaran untuk menaklukkan wilayah Wu. Sinolog sekaligus sejarawan barat Rafe de Crespigny mencatat bahwa Liu Bei mengerahkan sekitar 40.000 prajurit Kerajaan Shu. Sementara itu, naskah Sanguozhi menambahkan bahwa kekuatan tempur tersebut juga diperkuat oleh partisipasi masyarakat suku lokal Wulin, termasuk pasukan bantuan dari kepala suku Shamoke.
Rencana invasi Liu Bei berakhir dengan kekalahan fatal setelah pasukan Lu Xun melancarkan serangan balasan yang menghancurkan posisi tentara Shu. Hal tersebut menjadi pukulan berat bagi Liu Bei yang terpaksa mundur ke Baidicheng dan meninggal dunia pada tahun 223, tanpa berhasil membalas kematian Guan Yu maupun merebut kembali wilayah Jing. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Liu Bei yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana ternyata juga mampu mengambil keputusan militer berisiko tinggi ketika menghadapi persoalan pribadi dan politik.
7. Pernikahan Liu Bei dengan Sun Shangxiang Penuh Ketegangan
Hubungan antara Liu Bei dan Sun Shangxiang dalam game Dynasty Warriors sering ditampilkan dengan unsur romantis, menggambarkan bagaimana dua sosok dari pihak yang berbeda dapat mengikat hati bagaikan kisah cinta di sinetron. Namun, berdasarkan catatan sejarah Sanguozhi, hubungan mereka sebenarnya hanyalah bagian dari aliansi politik antara Liu Bei dan Sun Quan.
Pernikahan yang berlangsung sekitar tahun 209 tersebut ternyata jauh dari kata harmonis. Lady Sun, sebutan untuk Sun Shangxiang, dikenal memiliki kepribadian keras serta selalu diiringi oleh seratus pelayan perempuan yang dipersenjatai dengan pedang. Kehadiran para pengawal tersebut membuat Liu Bei merasa tidak nyaman, bahkan dikisahkan selalu merasa gentar setiap kali harus memasuki kamar istrinya.
Ketegangan ini bukan sekadar masalah rumah tangga biasa. Sebagai adik dari Sun Quan, Lady Sun memiliki pengaruh politik yang kuat. Rombongan pengikutnya juga dikenal sering bersikap arogan dan melanggar aturan di dalam wilayah kekuasaan Liu Bei. Situasi pelik tersebut pada akhirnya membuat Liu Bei harus menugaskan jenderal Zhao Yun untuk mengawasi urusan di kediamannya sekaligus menjaga ketertiban.
Puncak ketegangan hubungan suami-istri terjadi sekitar tahun 211 Masehi, saat Sun Quan mengirim armada kapal untuk menjemput adiknya kembali ke wilayah Wu. Pada saat itu, Sun Shangxiang berusaha membawa serta Liu Shan, putra Liu Bei dari istri sebelumnya, ke wilayah Wu. Tindakan tersebut berpotensi besar menjadikan Liu Shan sebagai sandera politik yang sangat berharga bagi pihak Wu untuk menekan Liu Bei.
Karakter Liu Bei sering kali digambarkan sebagai sosok penguasa yang sangat menjunjung tinggi kebajikan dan moralitas. Namun, representasinya dalam game populer, novel klasik, dan catatan sejarah ternyata menyimpan banyak kontradiksi yang menarik untuk dibahas. Berikut adalah delapan perbedaan Liu Bei dalam Dynasty Warriors, novel Samkok, dan catatan sejarah aslinya.
1. Sifat Pengasih dan Penyayang
Dalam game dan novel, Liu Bei terkenal karena air matanya dan kepeduliannya yang mendalam pada rakyat jelata, seperti saat ia menolak meninggalkan warga Changban. Sejarah mencatat ia memang memiliki empati, namun tindakannya lebih sering didorong oleh strategi politik dan pragmatisme ketimbang kemurnian moral semata.
2. Hubungan Persaudaraan Sumpah di Taman Persik
Momen sumpah di kebun persik antara Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei adalah ikon utama dalam fiksi. Dalam catatan sejarah aslinya, tidak ada catatan resmi mengenai upacara sumpah tersebut. Mereka bertiga hanya digambarkan memiliki hubungan yang sangat dekat bagaikan saudara.
3. Kepribadian dan Emosi
Game dan novel kerap melukiskan Liu Bei sebagai pemimpin yang sabar, lembut, dan jarang marah. Sebaliknya, catatan sejarah menunjukkan bahwa Liu Bei sebenarnya adalah sosok yang cukup tempramental, ambisius, serta memiliki sisi emosional yang kuat.
4. Penggunaan Pedang Ganda
Senjata ikonik berupa pedang ganda atau Shuang Gu Jian selalu melekat pada Liu Bei dalam berbagai adaptasi game. Faktanya, tidak ada bukti sejarah akurat yang menyebutkan bahwa Liu Bei menggunakan pedang ganda sebagai senjata utamanya di medan perang.
5. Hubungan dengan Cao Cao
Hubungan antara Liu Bei dan Cao Cao digambarkan sangat dinamis, mulai dari aliansi sementara hingga permusuhan abadi. Dalam sejarah, Cao Cao memang sempat memuji Liu Bei sebagai satu-satunya pahlawan sepadan, namun hal itu dilakukan karena Cao Cao menyadari potensi ancaman besar dari ambisi politik Liu Bei.
6. Pengunduran Diri dari Jingzhou
Keputusan Liu Bei dalam fiksi sering dinarasikan sebagai keterpaksaan demi melindungi rakyat. Dalam catatan sejarah, penguasaan wilayah dan perpindahan tersebut merupakan langkah militer yang diperhitungkan secara matang untuk kelangsungan kekuatan politiknya.
7. Penaklukan Provinsi Yi
Dalam novel, Liu Bei digambarkan ragu-ragu untuk merebut tanah milik kerabatnya sendiri, Liu Zhang. Padahal, catatan sejarah menunjukkan bahwa perebutan wilayah tersebut dilakukan dengan perencanaan strategis yang tegas demi mendirikan basis kekuasaan yang mandiri.
8. Kegagalan di Pertempuran Yiling
Serangan besar-besaran Liu Bei ke Wu untuk membalas dendam kematian Guan Yu digambarkan sebagai bentuk kesetiaan persaudaraan yang tinggi. Dalam sejarah, keputusan emosional ini memang berujung pada kekalahan telak yang melemahkan kekuatan Shu Han secara permanen.
Itulah delapan perbedaan Liu Bei dalam Dynasty Warriors, novel Samkok, dan catatan sejarah aslinya. Ternyata, sosok pemimpin yang dikenal penuh kebajikan ini juga punya sisi ambisius dan temperamental. Dari terungkapnya hal ini, menurutmu, siapa pemimpin terbaik di era Tiga Kerajaan: Liu Bei, Cao Cao, atau Sun Quan?
#LiuBei #DynastyWarriors #Samkok #ThreeKingdoms #SejarahTiongkok #NovelSamkok #CaoCao #SunQuan #KisahKlasik #SejarahMiliter